Keanekaragaman Hayati dan Keunikan Keanekaragaman di Indonesia

Keanekaragaman Hayati dan Keunikan Keanekaragaman di Indonesia - Keanekaragaman makhluk hidup merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam keragaman bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan makhluk hidup yaitu tingkatan ekosistem, tingkatan jenis, dan tingkatan genetik. Keanekaragaman hayati banyak memberikan manfaat bagi kehidupan, yaitu: Sebagai sumber pangan, perumahan, dan kesehatan Makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan sangat tergantung pada ketersediaan tanaman dan hewan. Sebagai sumber plasma nutfah Plasma nutfah merupakan kisaran keanekaragaman genetika yang menyangkut individu-individu liar sampai bibit unggul yang ada pada masa kini. Jadi, plasma nutfah tersebut terdapat di dalam sel makhluk hidup. Manusia memanfaatkan plasma nutfah sebagai bahan baku untuk pemuliaan tanaman dan hewan. Manfaat ekologik Masing-masing jenis organisme memiliki peranan di dalam ekosistemnya. Kestabilan tatanan kehidupan di suatu daerah ditentukan oleh makin beranekaragamnya jenis makhluk hidup.
Biodiversitas di Indonesia sangat unik karena:
  • Keanekaragaman tinggi.
  • Memiliki hewan tipe oriental, Australian, dan peralihan.
  • Indonesia kaya akan flora Malesiana.
  • Indonesia kaya akan hewan dan tumbuhan endemik.
Terdapat berbagai hewan dan tumbuhan langka.
Banyaknya spesies yang ada dalam sebuah ekosistem disebut keanekaragaman hayati.
Indonesia terletak di daerah tropis sehingga memiliki keanekaragaman tinggi dibandingkan dengan daerah subtropis (iklim sedang) dan kutub. Keanekaragaman yang tinggi di Indonesia dapat dijumpai di dalam lingkungan hutan hujan tropis. Di dalam hutan hujan tropis terdapat berbagai jenis tumbuhan (flora) dan hewan (fauna) yang belum dimanfaatkan atau masih liar. Di dalam tubuh hewan atau tumbuhan itu tersimpan sifat-sifat unggul, yang mungkin dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Keanekaragaman yang tinggi ini dapat dilihat dari berbagai jenis spesies yang dipunyai Indonesia.

Pada tahun 1858, Alfred Russel Wallace, yang hidup sezaman dengan Charles Darwin dan membantu mencetuskan teori evolusi seleksi alam, mengenal pola perbedaan antarsatwa pulau di Indonesia. Ia tidak mengira bahwa Kalimantan dan Sulawesi mempunyai jenis burung berbeda meski tidak dipisahkan oleh pembatas utama seperti fisik dan iklim. Berdasar pengamatannya, pada tahun 1859, Wallace menetapkan dua wilayah utama dengan menggambar garis batas di sebelah timur Kalimantan dan Bali, memisahkan satwa bagian barat dan timur.
Garis Wallace membelah Selat Makassar menuju ke selatan hingga Selat Lombok. Jadi, garis tersebut memisahkan wilayah oriental (termasuk Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australian (Sulawesi, Papua, Irian Jaya, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur).
  • Keunikan hewan-hewan yang termasuk daerah oriental atau Indonesia barat, antara lain:
  • Banyak spesies mamalia (gajah, banteng, harimau, badak), ukuran tubuh besar.
  • Terdapat berbagai jenis primata (mandril, tarsius, orang utan).
  • Terdapat berbagai jenis burung (burung-burung oriental memiliki warna tidak semenarik burung daerah Australian, namun memiliki suara lebih merdu, karena umumnya dapat berkicau).
  • Terdapat berbagai hewan endemik (badak bercula satu, binturong, kukang, jalak bali, murai mengkilat, dan ayam hutan berdada merah). Sedangkan hewan-hewan yang termasuk daerah Australian atau Indonesia bagian timur, antara lain:
Banyak hewan berkantung (kanguru, kuskus).
  • Mamalia berukuran tubuh kecil.
  • Terdapat berbagai jenis burung dengan beranekaragam warna.
  • Adanya garis Weber yang berada di sebelah timur Sulawesi memanjang ke arah utara ke kepulauan Aru, menjadikan Sulawesi merupakan pulau pembatas antara wilayah oriental dan Australian. Oleh karena itu, Sulawesi merupakan wilayah peralihan.
  • Hewan-hewan yang termasuk wilayah peralihan, antara lain: maleo, berbagai jenis kupu-kupu, primata primitif (Tarsius spectra), anoa, dan babi rusa.
Malesiana adalah suatu daerah luas yang meliputi Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan kepulauan Solomon. Wilayah ini terletak di daerah sekitar khatulistiwa. Daerah Malesiana memiliki iklim tropis dan curah hujan yang relatif tinggi. Maka di daerah ini merupakan pemusatan pertum-buhan berbagai jenis vegetasi. Hutan di Indonesia (seperti wilayah Malesiana) merupakan bioma hutan hujan tropis, yang didominasi oleh:
  1. Konservasi in situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan pada habitat asli. Konservasi ini meliputi 7 kategori, yaitu cagar alam, suaka margasatwa, taman laut, taman buru, hutan, atau taman wisata, taman provinsi, dan taman nasional. Adapun konservasi ex situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat asli, misalnya konservasi flora di Kebun Raya Bogor dan konservasi fauna di suaka margasatwa Way Kambas, Lampung. Pohon dari familia Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap, contohnya: meranti (Shorea sp), keruing (Dipterocarpus sp), kayu garu (Gonystylus bancanus).
Selain hutan hujan tropis Indonesia juga mempunyai hutan musim dan padang rumput. Pada hutan musim banyak dijumpai tumbuhan seperti jati, mahoni, bungur, soga, dan albasia. Di Indonesia juga terdapat tipe hutan pantai di mana banyak dijumpai berbagai tumbuhan seperti pandan (Pandanus tectorius), bakung, dan bakau. Contoh hewan endemik di Indonesia: harimau jawa, harimau bali (sudah punah), badak bercula satu di Ujung Kulon, jalak bali putih (Leucopsar rothschildi) di Bali, binturong, burung maleo di Sulawesi, dan komodo di Pulau Komodo. Contoh tumbuhan endemik di Indonesia dari genus Raflesia, seperti:
  • Raflesia patma di Nusakambangan dan Pangandaran.
  • Raflesia arnoldi endemik di Bengkulu, Sumatra Barat dan Aceh.
  • Raflesia borneensisi di Kalimantan.
Contoh hewan yang langka di Indonesia:
  • Harimau jawa (Panthera tigris sondaicus)
  • Macan kumbang (Panthera pardus)
  • Tapir (Tapirus indicus)
  • Komodo (Varanus komodensis)
  • Maleo (Macrocephalon maleo)
  • Banteng (Bos sondaicus)
  • Mandril (Nasalis larvatus)
  • Cendrawasih (Paradisea minor)
  • Kanguru pohon (Dendrolagus ursinus)
  • Kakatua raja (Probociger aterrimus)
  • Buaya muara (Crocodylus porosus)
  • Ular sanca hijau (Chondrophyton viridis)
Contoh tumbuhan yang langka di Indonesia:
  • Bedali (Radermachera gigantean)
  • Kepuh (Stereula foetida)
  • Bungur (Lagerstroemia spesiosa)
  • Nangka celeng (Arthocarpus heterophyllus)
  • Mundu (Garcinia dulcis)
  • Sawo kecik (Manilkara kauki)
  • Winong (Tetrameles nudiflora)
  • Kluwak (Pingium edule)
  • Gandaria (Bouea macrophylla).[tb]